Mudik Merupakan Ritual tahunan sebagian besar penduduk Indonesia, Padat berdesak desakan dan sangat melelah kan mewarnai setiap cerita dari para pemudik
Idul Fitri, hari besar umat Islam sedunia. Di Indonesia semuanya juga merayakan, dan minggu-minggu menjelang dan sesudah lebaran menjadi hari libur yang panjang. Banyak masyarakat yang menggunakan momen ini untuk mudik.
Apakah mudik itu? Mudik menurut saya adalah kembali ke udik. Udik disini berarti desa. Dalam konteks ini, mudik diartikan dengan kembali ke tempat asal kita berada, dan belum tentu itu adalah desa. Nah, fenomena mudik ini sudah terjadi sejak lama, bisa puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu.
Mengapa mereka mudik? Mereka mudik untuk melepas rindu dengan sanak keluarga dan handai taulan di tempat asalnya. Beberapa juga ‘pamer’ keberhasilannya di kota besar. Namun yang pasti adalah sebuah ‘syarat’ dalam Idul Fitri untuk saling bermaaf-maafan terutama dengan kedua orang tua dan saudara yang masih tinggal di tempat kelahiran.
Mengapa harus mudik? Kenyataannya adalah karena lahan memperoleh kesempatan (uang) ada di kota besar.
Apakah kesempatan hanya ada di kota besar? Iya, sebab pembangunan yang kita rasakan saat ini masih tidak merata. Lapangan kerja yang baik hanya ada di kota. Di kota apa saja tersedia, kantor-kantor penting adanya di kota, tempat perbelanjaan mewah adanya di kota, sarana pendidikan hebat cuma ada di kota, nyonya-nyonya jago gosip dan malas sehingga semuanya diserahkan pada pembantu adanya di kota, tuan-tuan berkantong tebal yang siap di rampok adanya di kota, hidung belang yang royal adanya di kota, narkoba dari a-z lengkap variannya dan mudah sekali memperolehnya tersedia di kota. Yang pasti kota adalah segalanya. Di desa? Paling-paling hanya jadi petani, itupun kalau sawahnya masih ada. Mengapa begitu? Mari kita tanyakan kepada pemerintah Indonesia yang terhormat (katanya).
“Woi pemerintah, kapan desa kami menikmati kesejahteraan, bukankah tanah ini kaya raya?” “Kapan desa kami yang kecil dan sederhana ini bisa menikmati pembangunan yang nyatanya juga dari pajak yang kami bayarkan?” “Kapan kami bisa mendapatkan akses jalan yang bagus, supaya kami mudah memasarkan hasil desa kami?” “Kapan kalian meningkatkan sarana pendidikan di desa kami agar rakyatnya tidak dibodohi terus dengan orang-orang kota?” “Kapan kalian menciptakan lapangan kerja yang layak disekitar desa kami supaya kami tidak perlu lagi datang ke kota, supaya perempuan-perempuan kami tidak berbondong-bondong pergi ke luar negeri untuk jadi TKW, dan setiap lebaran kami tidak perlu berdesakan dan mengeluarkan ongkos besar untuk mudik?” Kapan??
Di pulau Jawa, mungkin sebagian besar desa-desa sudah ‘lumayan’ kondisinya. Tapi diluar Jawa?. Masih banyak yang parah.
Akhir kata, bagi yang mudik selamat jalan dan berhati-hatilah, semoga selamat sampai tujuan.